Rabu, 20 Juni 2012

Wayang

Wayang secara harfiah artinya bayangan. Wayang dikenal sejak 1500 tahun sebelum masehi dimana masyarakat Indonesia pada saat itu memeluk kepercayan animism berupa pemujaan roh nenek moyang yang diwujudkan dalam arca atau gambar. Wayang merupakan salah satu bukti kekayaan khazanah budaya Indonesia. Berbagai etnis dan cerita wayang telah begitu luas dikenal dunia internasional sehingga Unesco pada 7 Nopember 2003 mengakui pertunjukkan wayang sebagai karya  budaya yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan berharga.

Wayang Kulit
Wayang kulit dianggap lazim di Indonesia terutama di Jawa dan Bali. Pertunjukkan teater wayang kulit di Jawa disertai dengan gamelan. Sedangkan di Bali, disertai dengan wayang gender. Sebutan wayang kulit mengacu pada bahan pembuatan wayang tersebut. Kulit dipahat dengan hati-hati dengan alat yang sangat halus dan didukung dengan tanduk kerbau yang dibentuk hati-hati sebagai batang kendali. Cerita yang ditampilkan biasanya diambil dari epik Ramayana, mahabrata atau Serat Menak.





Wayang Golek
Wayang Golek merupakan boneka kayu yang dioperasikan dari bawah dengan batang terhubung ke tangan dan tongkat pengatur kepala yang diposisikan melalui tubuh. Konstruksi tubuh boneka yang sedrhana membatasi fleksibelitas mereka dalam ekpresi dan meniru gerak manusia. Para cendikiawan berasumsi bahwa kemungkinan besar wayang golek berasal dari Cina dan tiba di Jawa sekitar abad ke-17, tempat dimana beberapa tradisi wayang golek tertua berasal. Pantai utara Jawa disebut daerah pesisir. Ini adalah rumah bagi beberapa kerajaan Islam tertua di Jawa dan kemungkinan popularitas wayang golek tumbuh dalam penceritaan cerita wayang menak Amir Hamzah, paman dari Muhammad. Cerita-cerita ini masih banyak dilakukan di Kebumen, Tegal, dan Jepara sebagai wayang golek menak, dan di Cirebon sebagai wayang golek cepak.

Wayang golek adalah salah satu kesenian khas tanah Sunda. Pada umumnya wayang golek masih dibuat secara tradisional oleh penduduk di desa tertentu di Jawa Barat. Wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukkan rakyat, yang memiliki fungsi yang relevam dengan kebutuhan masyarakat lingkungannya baik kebutuhan spiritual dan material. Dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat misalnya ketika ada perayaan baik hajatan dalam rangka khitanan, pernikahan, adakalanya diiringi dengan wayang golek.






Wayang Gunungan
Seni pertunjukkan yang telah berusia lebih dari lima abad. Membawa kisah Ramayana dan Mahabrata, pagelaran selama semalam suntuk ini menjadi ruang yang tepat untuk melewatkan malam, berefleksi dan memahami filosofi tentang kehidupan.

Wayang Klithik
Wayang ini memiliki gagang yang terbuat dari kayu. Apabila pentas menimbulkan bunyi klithik. Wayang ini pertamakali diciptakan oleh pangeran pekik Adipati Surabaya, dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga disebut wayang krucil. Munculnya wayang menak yang terbuat kayu, membuat Sunan Pakubowono II kemudian menciptakan wayang klithik yang menggunakan bahan kayu pipih  dua dimensi. Tangan wayang ini terbuat dari kulit yang ditatah.








Wayang Suket
Wayang ini sebetulnya adalah dolanan anak-anak di desa. Ketika mereka menggembalakan mencoba menirukan para dalang memainkan wayang. Jadilah rumput-rumput sekitar dimanfaatkan untuk dijadikan model wayang. Wayang suket tidak memunyai  bentuk yang baku seperti tokoh wayang kulit atau golek. Sekilas rumput tersebut dibentuk dengan rumput dan bisa dimainkan tangan. Namun, untuk membedakan sulit karena bentuknya hampir serupa.

http://www.dtopengkingdommuseum.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar